“Kalau mau tanam lagi, lahan musti dibiarin dulu, lalu dibajak, biar apa, biar zat haranya balik dan tanah gembur. Baru deh tanam lg”, kt pak tani. Kalo kata dokter cinta bagaimana ya?

tanaman sawahku udah tak jagain dari siang-malam-malam-siang, tapi…………………kok ya masih di ambil orang………………………

Sebuah status dalam FB yang ditulis oleh temanku.

saranne yo mending ditanduri maneh tanduran liyo, tp lek sawahe sik tandus, mending djarne disik trs diluku, ben zat hara ne mbalik lan gembur, br deh tandur maneh…

Salah satu komenku.

Aku sebenarnya tidak tahu maksud yang pasti dari apa yang ditulis temanku itu. Yang aku tahu hanya dia adalah seorang engineer dan bukan seorang petani yang mempunyai lahan/sawah untuk bercocok tanam. Logikaku langsung tertuju pada satu hal, mungkinkah ini masalah cinta?

Kalau dipikir-pikir, menurut pandanganku, ada hubungannya kok antara bercocok tanam dengan cinta. OK, kita ambil satu kasus, kita ditinggal nikah pacar kita. Lha, dah pada mudheng kan? Mau bagaimana lagi, cari yang baru lah, masak mau ngejar-ngejar dia terus. Sakit emang, tapi waktu dan kelapangan hati kita pasti akan jadi penyembuhnya. Dan saat “hantu” itu telah sirna, maka itu adalah saat dimana kita siap menyambut permaisuri baru kita tiba.

There are no comments on this post

Leave a Reply